November 27, 2020

10 Besar Penyakit di Kab. Cirebon : 1. Nosofaringitis akuta ( Commond Cold ) 186.265. 2. Infeksi saluran pernapasan akut tidak spesifik 157.077. 3. Myalgia 130.221. 4. Diare dan Gastoenteritis 75.208. 5. Dermatitis lain tidak spesifik ( eksema ) 67.373. 6. Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkotan yang tidak terklarifikasi 59.325. 7. Gastroduodenitesis tidak spesifik 57.858. 8. Hipertensi primer ( esensial ) 53.885. 9. Faringitis Akuta 49.783. 10. Tukak Lambung 49.083.

PEREKRUTAN STAF NON ASN GF-ATM KOMPONEN TB KABUPATEN CIREBON

Print pagePDF pageEmail page

Tuberkulosis (TBC / TB) merupakan penyakit menular langsung yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Saat ini jumlah penderita TBC di Indonesia ada diurutan ke-3 di dunia setelah India dan China. Beban TB di Indonesia semakin berat dengan munculnya TB Resisten Obat (TBRO) yang tidak bisa diobati dengan obat anti TB (OAT) lini pertama yang ada di Puskesmas dan RS Non Rujukan TBRO. Pasien TBRO (yang lebih dikenal dengan sebutan TB MDR) hanya bisa diobati di RS Rujukan TBRO. Saat ini RS Rujukan TBRO untuk wilayah Ciayumajakuning baru ada satu yaitu RSD Gunungjati. Pasien TB RO (TB MDR) harus mengikuti pengobatan antara 9 bulan sampai 24 bulan. Biaya pengobatan TBRO untuk obat-obatan dan penunjang lain sangat mahal yaitu sekitar 100 kali lipat biaya pengobatan TB yang sensitif obat (TBSO). Selain mahal, obat-obatan TB RO menimbulkan efek samping yang lumayan banyak pada penderita yang sedang mengikuti pengobatan, sehingga banyak pasien TBRO yang berhenti pengobatan sebelum sembuh. Pasien TB RO bila tidak diobati akan menularkan kepada 10 sampai 15 orang daam satu tahun.

Kasus TBRO semakin meningkat sehingga perlu penanganan khusus agar tidak menyebar di masyarakat. Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, untuk mencapai Indonesia Bebas TBC tahun 2030 kita harus melakukan :

  1. Pelacakan secara agresif untuk menemukan penderita TBC sehingga dapat menumpang proses pencarian untuk Covid-19. ”Kita harus tahu bahwa 845 ribu penduduk  penderita TBC dan yang ternotifikasi baru 562 ribu, sehingga yang belum terlaporkan masih kurang lebih 33%. Ini hati-hati,” ujar Presiden.
  2. Layanan diagnostik maupun pengobatan TBC harus terus tetap berlangsung diobati sampai sembuh, mulai stok obat-obatan juga dipastikan harus tersedia. ”Kalau perlu memang butuh Perpres atau Permen segera terbitkan sehingga prinsip kita sejak awal; temukan, obati, dan sembuh itu betul-betul bisa kita laksanakan,” kata Presiden seraya menambahkan sebagaimana penyelesaian Covid-19.
  3. Upaya pencegahan, preventif, dan promotif untuk mengatasi TBC ini betul-betul harus lintas sektor, termasuk dari sisi infrastruktur. ”Semuanya harus dikerjakan terutama untuk tempat tinggal atau rumah yang lembab, kurang cahaya matahari, tanpa ventilasi. Terutama ini tempat-tempat yang padat ini perlu, kepadatan lingkungan,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kegiatan Program Penanggulangan Tuberkulosis khususnya TB RO, maka Dinas Kesehatan Kab. Cirebon akan melaksanakan perekrutan staf non ASN untuk pendukung Program TB yang akan direkrut untuk periode Agustus sampai Desember 2020. Perekrutan Non ASN untuk jabatan dari Finance Verification Staf dan Data Collector masing-masing 1 orang. Staf tersebut akan berstatus kontrak dengan NGO Global Fund ATM Komponen TB Jawa Barat yang akan ditempatkan di Dinas Kesehatan Kab. Cirebon dengan upah sesuai UMR Kabupaten Cirebon.

Adapun rincian lebih lanjut ada di bawah ini

JABATAN :

  1. Finance Verification Staff (1 orang)
  2. Data Collector (1 orang)

KUALIFIKASI JABATAN:

  1. Finance Verification Staff
  2. Pendidikan minimal S1 Keuangan / Akuntansi
  3. Usia maksimal 35 tahun
  4. Minimal berpengalaman lebih dari 2 tahun dalam pengelolaan keuangan dana bantuan luar negeri, pengalaman bekerja di instansi pemerintahan menjadi nilai tambah
  5. Mempunyai motivasi tinggi, mandiri, mampu bekerjasama dalam tim, mampu melakukanan alisis dan penyelesaian masalah
  6. Memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi yang baik
  7. Mempunyai kemampuan mengoperasikan komputer, menguasai MS Office (Words, Excel dan Power Point) dan akses email/ internet dengan baik
  8. Mampu mengoperasikan system informasi keuangan/akuntansi
  9. Memahami standard acuan keuangan/akuntansi sesuai ketentuan yang berlaku
  10. Data Collector
  11. Pendidikan minimal S1 bidang Kesehatan
  12. Usia maksimal 35 tahun
  13. Minimal berpengalaman kerja 3 tahun di bidang kesehatan, pengalaman kerja di Program TB menjadi nilai tambah
  14. Mempunyai motivasi tinggi, mandiri, mampu bekerjasama dalam tim, mampu melakukan analisis dan penyelesaian masalah
  15. Memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi yang baik
  16. Mempunyai kemampuan mengoperasikan komputer, menguasai MS Office (Words, Excel dan Power Point) dan akses email/ internet denganbaik
  17. Memiliki kemampuan berbahasa Inggris minimal pasif
  18. Bersedia melakukan perjalanan dinas ke provinsi

FUNGSI PEKERJAAN :

  1. Finance Verification Staff

Keuangan: Bertanggungjawab untuk melaksanakan administrasi keuangan, mencatat dan rekap pertanggungjawaban kegiatan, verifikasi dokumen dan transaksi terutama kegiatan Sweep-In

Sweep-In: kegiatan pelacakan terduga TB/ TB-RO yang telah terkonfirmasi Rifampisin Resisten tetapi belum memulai pengobatan. Dengan bantuan tenaga Data Collector, diharapkan seluruh terduga TB/ TB RO dapat memulai pengobatan.

  • Data Collector

Bertanggungjawab melakukan tahapan Sweep-In situs Gx untuk pencatatan, rekapitulasi, pelaporan, dan analisis data P2TB di tingkat kabupaten/kota.

Sweep-In: kegiatan pelacakan terduga TB/ TB-RO yang telah terkonfirmasi Rifampisin Resisten tetapi belum memulai pengobatan. Dengan bantuan tenaga Data Collector, diharapkan seluruh terduga TB/ TB RO dapat memulai pengobatan.

TUGAS POKOK :

  1. Tugas Pokok Keuangan dan Akuntansi
  2. Memeriksa memo dan memastikan semua unit cost telah sesuai dengan Standar Biaya Masukan dari Kementerian Keuangan RI dan SOP yang berlaku, memo selesai diperiksa tidak lebih dari 1 (satu) hari.
  3. Melakukan pencairan cek ke bank yang telah ditunjuk.
  4. Melakukan pengecekan/ verifikasi atau review atas berkas/ dokumen klaim yang telah disiapkan oleh Data Collector, selanjutnya melakukan settlement dokumen atas seluruh kegiatan
  5. Melakukan pengecekan terhadap dokumen klaim dari faskes untuk kemudian diproses-pembayaran
  6. Melakukan pengarsipan atas semua dokumen terkait dengan administrasi keuangan di GF ATM Komponen TB, termasuk meminta tandatangan kepada pejabat yang berwenang.
  7. Mengumpulkan dan menyiapkan semua dokumen untuk keperluan audit.
  8. Memberikan laporan pertanggungjawaban secara tepat waktu sesuai dengan SOP yang berlaku
  • Data Collector
  1. Mengunjungi semua situs Gx bersama perawat di Rumah Sakit TB-RO melihat daftar semua kasus yang didiagnosis pada tahun 2019 dan menghapus duplikat data.
  2. Melakukan pencocokkan data melalui aplikasi e-TB Manager, mengeluarkan data pasien yang sedang menjalani perawatan.
  3. Membuat klasifikasi data pasien yang tidak memulai pengobatan berdasarkan kabupaten dan Puskesmas.
  4. Bersama dengan Wasor TB mengirim data/ daftar pasien ke Puskesmas dan pihak Civil Society Organization (CSO).
  5. Bersama dengan Perawat TB dan staf CSO, melakukan pelacakan pasien ke rumah-rumah.
  6. Melakukan komunikasi persuasif mengajak pasien untuk berobat ke Rumah Sakit TB-RO
  7. Memastikan pasien tiba di RS TB-RO, diperiksa oleh Tim Ahli Klinis (TAK), spesimen dikumpulkan untuk pemeriksaan laboratorium dasar dan DST
  8. Setelah pemeriksaan lab, Data Collector memastikan pasien kembali ke tempat tinggalnya, sementara untuk pasien yang kondisinya parah, Data Collector membantu memastikan pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit.
  9. Bersama dengan Wasor TB meminta informasi kepada Tim Ahli Klinis mengenai penetapan rejimen yang tepat berdasarkan hasil tes yang telah tersedia.
  10. Bersama dengan Wasor TB, Data Collector menginformasikan penetapan rejimen dari TAK kepada pihak Puskesmas.
  11. Melakukan komunikasi persuasif mengajak pasien ke Rumah Sakit TB-RO untuk memulai pengobatan/ dosis pertama.
  12. Mengumpulkan, merekap, melakukan validasi data pasien TB/ TB-RO di tingkat kabupaten/kota
  13. Menganalisis data pasien TB/ TB-RO di tingkat kabupaten/kota
  14. Membantu Wasor kabupaten/kota dalam proses pengajuan klaim yang berhubungan dengan fasyankes dan bantuan teknis lainnya.
  15. Membantu pekerjaan lain terkait program penanggulangan TB sesuai arahan pimpinan

WEWENANG :

  1. Finance Verification Staff
    1. Mengelola dokumen pertanggungjawaban kegiatan di tingkat kab/kota
  2. Data Collector
    1. Memberikan masukan terkait temuan data pasien di lapangan

HUBUNGAN KERJA :

  1. Finance Verification Staff
    1. Internal : Data Collector, Data Officer, FA, AFA, PPO, PM, Kabid selaku PIC, Wasor, Kasie, M&E dan Internal Control di tingkat PR 
    1. Eksternal: Bank, pihak Faskes/ Rumah Sakit/ Lab, mitra dan pemangku kepentingan.
  • Data Collector

Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota, Kepala Bidang P2P, Kepala Seksi P2PM, Wasor, PPO, pemangku kepentingan lintas program dan lintas sector terkait penanggulangan TB

TATA CARA MELAMAR :

  1. Berkas lamaran lengkap dimasukan dalam amplop coklat dengan lampiran persyaratan administrasi sebagai berikut:
  2. Surat lamaran pekerjaan yang ditujukan kepada Dinas kesehatan Kab.Cirebon
  3. Daftar riwayat hidup
  4. Pas Foto terbaru ukuran 4×6 cm sebanyak 1 lembar
  5. Foto copy  KTP yang masih berlaku sebanyak 1 lembar
  6. Foto copy ijazah dan transkip nilai akademik masing-masing 1 lembar
  7. Pelamar wajib mencantumkan nomor telepon yang dapat di hubungi pada bagian kiri atas amplop
  8. Berkas lamaran dikirim langsung ke Dinas Kesehatan Kab. Cirebon cq. Seksi P2PM Jl. Sunan Muria no 06 Sumber paling lambat 03 Agustus 2020
  9. Seluruh berkas lamaran yang masuk menjadi milik Dinas Kesehatan Kab.Cirebon dan tidak dapat di tarik/diambil kembali dengan alasan apapun.
  10. Keputasan kelulusan bersifat final dan mutlak tidak dapat diganggu serta tidak diadakan surat menyurat dan komunikasi dalam bentuk apapun terkait keputusan tersebut.

Launching Aplikasi SI-EMPAL

Print pagePDF pageEmail page

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon hari ini (26/06/2017) meresmikan peluncuran Aplikasi SISTEM INFORMASI & EVALUASI MANAJEMEN PELAPORAN ANALISIS LINGKUNGAN (Si-EMPAL) kepada 29 Kepala Puskesmas dan Petugas Sanitasi.

Aplikasi ini merupakan Projek Perubahan dari Kepala Dinas Kesehatan Hj. Eni Suhaeni, SKM., M.Kes. dengan tujuan untuk meningkatkan cakupan desa ODF (Open Defecation Free) atau buang air besar (BAB) sembarangan.

Si-EMPAL adalah sebuah sistem informasi interaktif berbasis WEB yang mengukur tingkat pengetahuan dan partisipasi pemantauan dari masyarakat terhadap lingkungan disekitarnya.

Hal ini dilatarbelakangi

  1. 30% KK dari 650.000 yang belum mempunyai Jamban,
  2. dari 30% tersebut 13%nya masih  BAB sembarangan
  3. belum sistem informasi yang data mengukur tingkat pengatahuan dan partisipasi masyarakat secara interkatif dalam memantau lingkungan sekitarnya.

Aplikasi ini bisa diacres melalui website Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon dengan cara menulis di browser dinges.cirebonkab.go,id atau KLIK DISINI

atau melalui SMS Gateway dengan cara ketik siempal kirim ke 0812 2924 1117

Harapan dari aplicai Si-EMPAL ini bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kabupaten Cirebon.






SMS ke 0812 2000 6001 solusi bertanya tentang Kesehatan

Print pagePDF pageEmail page

P2P]. “Cukup ketik PENYAKIT kirimkan SMS ini ke 0812 2000 6001 maka informasi penyakit ada di ujung jari Anda,” Ujar Kepala Bidang P2P dr. Hj. Neneng Hasanah dalam amanat Apel Pagi di halaman Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon.

“Aplikasi ini di sebut e-PEDALKIT atau elektronik Pengendalian Penyakit yang bersistem SMS Gateway, sehingga tinggal ikuti MENU yang ada pada jawaban SMS tersebut”, Lanjut dr. Neneng sapaan akrabnya.

“Atau bisa juga dengan mengunjungi website e-PEDALKIT dengan alamat www.rujukan.cirebonkab.go.id/pedalkit maka dengan klik link tersebut bisa melihat keseluruhan dari aplikasi ini.” Pungkasnya.






Puskesmas Suranenggala Layani IMS dan HIV/AIDS

Print pagePDF pageEmail page

Sejak Januari 2013 Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon menambah klinik layanan IMS dan HIV/AIDS di Puskesmas Suranenggala, tidak lain dari penambahan ini adalah daram rangka meningkatkan aksessibilitas pelayanan, sehingga masyarakat bisa lebih efisien baik dari waktu maupun biaya yang dikeluarkan untuk datang ke pelayanan kesehatan.
Perlu diketahui bahwa layanan ini meliputi pemeriksaan laboratorium, konseling, pengobatan dan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkannya.

Sesuai dengan rencana strategis bahwa tahun 2013 ini akan di setup oleh Global Fund untuk dijadikan puskesmas yang mampu melayani warga kabupaten cirebon bagian utara, serta dukungan tenaga medis dan paramedis, konselor serta tenaga laboran yang bersertfikat, artinya tenaganya sudah mahir dan trampil.
Selain hal tersebut, juga untuk mengantisipasi kasus HIV yang sangat cepat penularnnya, dimana IMS adalah salah satu pintu masuk virus ini.
Harapannya adalah bahwa dengan bertambahnya klinik ini, maka merupakan klinik ke 6 setelah kedawung, Plumbon, Beber, Ciledug dan Tegalgubug.