September 19, 2017

10 Besar Penyakit di Kab. Cirebon : 1. Nosofaringitis akuta ( Commond Cold ) 186.265. 2. Infeksi saluran pernapasan akut tidak spesifik 157.077. 3. Myalgia 130.221. 4. Diare dan Gastoenteritis 75.208. 5. Dermatitis lain tidak spesifik ( eksema ) 67.373. 6. Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkotan yang tidak terklarifikasi 59.325. 7. Gastroduodenitesis tidak spesifik 57.858. 8. Hipertensi primer ( esensial ) 53.885. 9. Faringitis Akuta 49.783. 10. Tukak Lambung 49.083.

Kasus HIV/AIDS Triwulan 1 Tahun 2014 Capai 31 Orang


indexP2P– Penemuan Kasus HIV/AIDS pada Triwulan 1 Tahun 2014 sudah mencapai 31 orang, atau rata-rata 10 kasus ditemukan selama kurun waktu 3 bulan. Sehinggaa apabila dikumulatifkan dengan akhir tahun 2013 (774) sudah mencapai 805 kasus. Data dan fakta membuktikan bahwa 68% masih di dominasi kaum laki-laki, 85% kelompok umur produktif antara 21-40 tahun, dan diantaranya 50% dengan status menikah, serta 50% dengan tingkat pendidikan telah menamatkan SMA, Sedangkan kasus AIDS tercatat 77 kasus.

Perlu diketahui bahwa HIV/AIDS saat ini bukan milik populasi yang berisiko tinggi, tetapi kenyataan lain membuktikan bahwa Ibu Rumah Tangga pun sudah mulai terancam bahkan bayinya juga.

Hal lain pun mengalami pergeseran risiko seperti tahun-tahun sebelumnya pengguna narkoba suntik mendominasi penyebab penularan tertinggi HIV, namun saat ini ternyata kalangan heteroseks yang mendominasi. Perubahan ini tentunya didasari dari gencarnya program penggunaan jarum suktik steril yang disediakan di layanan kesehatan, sehingga kasus di penngguna narkoba suntik menurun. Tentunya hal ini perlu penelitian lebih jauh, faktor-faktor apa saja yang dapat menurunnya kasus di penasun dan bisa meningkat di kelompok heteroseks. Data di Kabupaten Cirebon untuk penularan HIV dari pengguna suntik semakin menyusut dimana hanya 20%, tetapi dari heteroseks jauh sekali peningkatannya sehingga tercatat kurang lebih menjadi 80%.

Dengan semakin meningkatnya penemuan kasus HIV, perlu kiranya disikapi dengan strategi yang tepat dan cepat. Diantaranya adalah penyiapan layanan kesehatan di semua lini, baik di Puskesmas, Rumah Sakit mapun di masyarakat sendiri. Dimana saat ini peranserta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS sangat diperlukan, sehingga 3 Zero dapat diatasi melalui layanan komprehesif yang berkesinambungan. Artinya sektor pemerintah, swasta, dunia usaha dan masyarakat secara bersama-sama dan bersinergi dalam penanggulangannya.
Read more at http://dinkes.cirebonkab.go.id/artikel/tahun-2013-hivaids-di-kabupaten-cirebon-kumulatif-774-kasus.html#oJt6b9Uyb4PvZQeb.99

Data dan fakta membuktikan bahwa 68% masih di dominasi kaum laki-laki, 85% kelompok umur produktif antara 21-40 tahun, dan diantaranya 50% dengan status menikah, serta 50% dengan tingkat pendidikan telah menamatkan SMA, Sedangkan kasus AIDS tercatat 77 kasus.

Perlu diketahui bahwa HIV/AIDS saat ini bukan milik populasi yang berisiko tinggi, tetapi kenyataan lain membuktikan bahwa Ibu Rumah Tangga pun sudah mulai terancam bahkan bayinya juga.

Hal lain pun mengalami pergeseran risiko seperti tahun-tahun sebelumnya pengguna narkoba suntik mendominasi penyebab penularan tertinggi HIV, namun saat ini ternyata kalangan heteroseks yang mendominasi. Perubahan ini tentunya didasari dari gencarnya program penggunaan jarum suktik steril yang disediakan di layanan kesehatan, sehingga kasus di penngguna narkoba suntik menurun. Tentunya hal ini perlu penelitian lebih jauh, faktor-faktor apa saja yang dapat menurunnya kasus di penasun dan bisa meningkat di kelompok heteroseks. Data di Kabupaten Cirebon untuk penularan HIV dari pengguna suntik semakin menyusut dimana hanya 20%, tetapi dari heteroseks jauh sekali peningkatannya sehingga tercatat kurang lebih menjadi 80%.

Dengan semakin meningkatnya penemuan kasus HIV, perlu kiranya disikapi dengan strategi yang tepat dan cepat. Diantaranya adalah penyiapan layanan kesehatan di semua lini, baik di Puskesmas, Rumah Sakit mapun di masyarakat sendiri. Dimana saat ini peranserta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS sangat diperlukan, sehingga 3 Zero dapat diatasi melalui layanan komprehesif yang berkesinambungan. Artinya sektor pemerintah, swasta, dunia usaha dan masyarakat secara bersama-sama dan bersinergi dalam penanggulangannya.
Read more at http://dinkes.cirebonkab.go.id/artikel/tahun-2013-hivaids-di-kabupaten-cirebon-kumulatif-774-kasus.html#oJt6b9Uyb4PvZQeb.99

Data dan fakta membuktikan bahwa 68% masih di dominasi kaum laki-laki, 85% kelompok umur produktif antara 21-40 tahun, dan diantaranya 50% dengan status menikah, serta 50% dengan tingkat pendidikan telah menamatkan SMA, Sedangkan kasus AIDS tercatat 77 kasus.

Perlu diketahui bahwa HIV/AIDS saat ini bukan milik populasi yang berisiko tinggi, tetapi kenyataan lain membuktikan bahwa Ibu Rumah Tangga pun sudah mulai terancam bahkan bayinya juga.

Hal lain pun mengalami pergeseran risiko seperti tahun-tahun sebelumnya pengguna narkoba suntik mendominasi penyebab penularan tertinggi HIV, namun saat ini ternyata kalangan heteroseks yang mendominasi. Perubahan ini tentunya didasari dari gencarnya program penggunaan jarum suktik steril yang disediakan di layanan kesehatan, sehingga kasus di penngguna narkoba suntik menurun. Tentunya hal ini perlu penelitian lebih jauh, faktor-faktor apa saja yang dapat menurunnya kasus di penasun dan bisa meningkat di kelompok heteroseks. Data di Kabupaten Cirebon untuk penularan HIV dari pengguna suntik semakin menyusut dimana hanya 20%, tetapi dari heteroseks jauh sekali peningkatannya sehingga tercatat kurang lebih menjadi 80%.

Dengan semakin meningkatnya penemuan kasus HIV, perlu kiranya disikapi dengan strategi yang tepat dan cepat. Diantaranya adalah penyiapan layanan kesehatan di semua lini, baik di Puskesmas, Rumah Sakit mapun di masyarakat sendiri. Dimana saat ini peranserta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS sangat diperlukan, sehingga 3 Zero dapat diatasi melalui layanan komprehesif yang berkesinambungan. Artinya sektor pemerintah, swasta, dunia usaha dan masyarakat secara bersama-sama dan bersinergi dalam penanggulangannya.
Read more at http://dinkes.cirebonkab.go.id/artikel/tahun-2013-hivaids-di-kabupaten-cirebon-kumulatif-774-kasus.html#oJt6b9Uyb4PvZQeb.99


KEMENKES Luncurkan AIDSdigital, Informasi HIV-AIDS digenggaman Tangan Anda


aidsdigitalHari ini (31/10), Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., MPH meluncurkan aplikasi AIDS Digital, di Jakarta. Aplikasi AIDS Digital adalah aplikasi pertama di tingkat regional Asia Pacific, yang dibangun oleh ODHA, berteknologi tinggi yang berguna dalam mendukung pencapaian program penanggulangan AIDS.

Peluncuran aplikasi ini guna mendukung program pemerintah Indonesia dalam mencapai target MDGs untuk AIDS. Sebagaimana diketahui, sebagian besar infeksi baru HIV dan AIDS dilaporkan pada kelompok usia muda atau usia produktif. Pada periode April-Juni 2013 sebagian besar infeksi baru HIV adalah pada kelompok usia 25-49 tahun (71%) dan kasus AIDS baru sebagian besar pada kelompok usia 30-39 tahun.

Generasi muda atau kelompok usia produktif umumnya memiliki pemahaman yang cukup baik tentang teknologi informasi termasuk teknologi digital. Pemahaman ini merupakan peluang untuk memanfaatkan teknologi informasi dan teknologi digital dalam menjangkau generasi muda untuk menyampaikan berbagai pesan kesehatan termasuk pesan tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS.

AIDS Digital bermanfaat untuk menginformasikan tentang berbagai hal, seperti pelayanan kesehatan, lokasi pelayanan kesehatan, jadwal pelayanan melalui alat komunikasi sehingga masyarakat tidak selalu perlu datang langsung ke fasilitas kesehatan. Dengan demikian,  waktu dan dana dapat dihemat, bahkan hambatan budaya akibat rasa malu dan atau adanya stigmatisasi  dan diskriminasi dapat dihindarkan, kata Menkes dalam sambutannya.

Pada kesempatan tersebut, Menkes minta agar seluruh jajaran kesehatan di Tanah Air ikut    mensosialisasikan kepada masyarakat tentang peluang mengakses informasi kesehatan melalui AIDS Digital. Dengan demikian, berbagai sasaran Pembangunan Kesehatan dapat dipercepat pencapaiannya termasuk pencapaian getting to zero pengendalian AIDS,  yaitu  tidak ada kasus baru HIV, tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, dan tidak ada  kematian akibat AIDS.

Aplikasi Digital AIDS dirancang atas kerjasama Kemenkes dengan Indonesia AIDS Coalition (IAC). Aplikasi ini berbasis Internet dan bisa diakses melalui website dan telepon pintar (smartphone). Aplikasi ini dapat diakses di website www.aidsdigital.net. Sedangkan bagi aplikasi berbasis telepon pintar dibangun dengan menggunakan tiga platform operating system yaitu iOs, Blackberry z10 dan Android yang akan bisa diakses di Apple Store, Google Play dan Blackberry Store.

AIDS Digital berisi informasi layanan terdiri dari Tes HIV, Terapi ARV, Kelompok dukungan ODHA, Pencegahan Vertikal, Layanan Jarum suntik steril, layanan methadone dan layanan IMS. Selain itu juga ada direktori online dari lembaga yang bekerja untuk program penangulangan AIDS seperti Kemenenterian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS, LSM dan juga jaringan populasi kunci.
Selain peluncuran AIDS Digital pada kesempatan yang sama Menkes juga meluncurkan website Kementerian Kesehatan RI dengan tampilan yang baru.

Website tersebut memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan website sebelumnya seperti dapat diakses dari handphone dan tablet serta dapat link dengan berbagai website lain yang terkait dengan kesehatan termasuk AIDS Digital, ujar Menkes.


OJT DOTS di RSUD Arjawinangun


Jumat (3/8), Dinas Kesehatan beserta Tim KNCV melakukan On the Job Training tentang Public Private Mix (PPM), acarapun dipimpin langsung oleh Wakil Direktur RSUD Arjawinangun dr. H. Ahmad Qoyim, MARS.Acara ini merupakan rangkaian kegiatan PPM dalam optimalisasi jejaring internal di semua tingkat layanan yang ada di RSUD Arjawinangun dalam kasus TB.

Acara diisi dengan pemaparan dari dr. Hj. Neneng selaku Manager program KNCV Jawa Barat yang membahas tentang jejaring internal di RS, kemudian dilanjutkan oleh Ibu Mien dengan memaparkan hasil assesment serta pemaparan dari RS sendiri yang disampaikan oleh dr. Edi Jubaedi.

[Read more…]