November 15, 2019

10 Besar Penyakit di Kab. Cirebon : 1. Nosofaringitis akuta ( Commond Cold ) 186.265. 2. Infeksi saluran pernapasan akut tidak spesifik 157.077. 3. Myalgia 130.221. 4. Diare dan Gastoenteritis 75.208. 5. Dermatitis lain tidak spesifik ( eksema ) 67.373. 6. Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkotan yang tidak terklarifikasi 59.325. 7. Gastroduodenitesis tidak spesifik 57.858. 8. Hipertensi primer ( esensial ) 53.885. 9. Faringitis Akuta 49.783. 10. Tukak Lambung 49.083.

KEMENKES Luncurkan AIDSdigital, Informasi HIV-AIDS digenggaman Tangan Anda

Print pagePDF pageEmail page

aidsdigitalHari ini (31/10), Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., MPH meluncurkan aplikasi AIDS Digital, di Jakarta. Aplikasi AIDS Digital adalah aplikasi pertama di tingkat regional Asia Pacific, yang dibangun oleh ODHA, berteknologi tinggi yang berguna dalam mendukung pencapaian program penanggulangan AIDS.

Peluncuran aplikasi ini guna mendukung program pemerintah Indonesia dalam mencapai target MDGs untuk AIDS. Sebagaimana diketahui, sebagian besar infeksi baru HIV dan AIDS dilaporkan pada kelompok usia muda atau usia produktif. Pada periode April-Juni 2013 sebagian besar infeksi baru HIV adalah pada kelompok usia 25-49 tahun (71%) dan kasus AIDS baru sebagian besar pada kelompok usia 30-39 tahun.

Generasi muda atau kelompok usia produktif umumnya memiliki pemahaman yang cukup baik tentang teknologi informasi termasuk teknologi digital. Pemahaman ini merupakan peluang untuk memanfaatkan teknologi informasi dan teknologi digital dalam menjangkau generasi muda untuk menyampaikan berbagai pesan kesehatan termasuk pesan tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS.

AIDS Digital bermanfaat untuk menginformasikan tentang berbagai hal, seperti pelayanan kesehatan, lokasi pelayanan kesehatan, jadwal pelayanan melalui alat komunikasi sehingga masyarakat tidak selalu perlu datang langsung ke fasilitas kesehatan. Dengan demikian,  waktu dan dana dapat dihemat, bahkan hambatan budaya akibat rasa malu dan atau adanya stigmatisasi  dan diskriminasi dapat dihindarkan, kata Menkes dalam sambutannya.

Pada kesempatan tersebut, Menkes minta agar seluruh jajaran kesehatan di Tanah Air ikut    mensosialisasikan kepada masyarakat tentang peluang mengakses informasi kesehatan melalui AIDS Digital. Dengan demikian, berbagai sasaran Pembangunan Kesehatan dapat dipercepat pencapaiannya termasuk pencapaian getting to zero pengendalian AIDS,  yaitu  tidak ada kasus baru HIV, tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, dan tidak ada  kematian akibat AIDS.

Aplikasi Digital AIDS dirancang atas kerjasama Kemenkes dengan Indonesia AIDS Coalition (IAC). Aplikasi ini berbasis Internet dan bisa diakses melalui website dan telepon pintar (smartphone). Aplikasi ini dapat diakses di website www.aidsdigital.net. Sedangkan bagi aplikasi berbasis telepon pintar dibangun dengan menggunakan tiga platform operating system yaitu iOs, Blackberry z10 dan Android yang akan bisa diakses di Apple Store, Google Play dan Blackberry Store.

AIDS Digital berisi informasi layanan terdiri dari Tes HIV, Terapi ARV, Kelompok dukungan ODHA, Pencegahan Vertikal, Layanan Jarum suntik steril, layanan methadone dan layanan IMS. Selain itu juga ada direktori online dari lembaga yang bekerja untuk program penangulangan AIDS seperti Kemenenterian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS, LSM dan juga jaringan populasi kunci.
Selain peluncuran AIDS Digital pada kesempatan yang sama Menkes juga meluncurkan website Kementerian Kesehatan RI dengan tampilan yang baru.

Website tersebut memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan website sebelumnya seperti dapat diakses dari handphone dan tablet serta dapat link dengan berbagai website lain yang terkait dengan kesehatan termasuk AIDS Digital, ujar Menkes.


3 Rumah Sakit Siap Layani Pasien ODHA

Print pagePDF pageEmail page

aids-hiv-2P2P – Dalam mendongkrak capaian MDGs Goal ke 6, Pemerintah Kabupaten Cirebon telah menyiapkan 3 Rumah Sakit Pemerintah untuk melayani Pasien ODHA, yaitu RSUD Waled, Arjawinangun dan RSP Sidawangi. Tentunya hal ini disambut gembira oleh para ODHA yang memerlukan layanan yang lebih komprehensif serta semakin dekat dengan tempat tinggalnya. Adapun layanan yang dipersiapkan adalah untuk Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) atau dalam istilah medisnya Care Support and Treatment (CST).

Lokasi ketiga rumah sakit ini tentunya sangat strategis, dimana RSUD Waled akan melayani pasien dibagian timur cirebon, RSUD Arjawinangun akan melayani wilayah barat cirebon dan RSP Sidawangi akan melayani pasien yang berlokasi di bagian tengah cirebon.

Perlu diketahui bahwa kasus HIV-AIDS di Kabupaten Cirebon sampai dengan  Mei 2013 secara kumulatif sudah mencapai 672 artinya dalam kurun waktu lima bulan sudah ada penemuan sebanyak 35 kasus jika dibandingkan kondisi akhir tahun 2012 (637 kasus). Ini adalah kasus yang baru diketemukan!. Artinya masih banyak kasus yang belum diketemukan karena kasus HIV merupakan fenomena gunung es.

Dinas Kesehatan bejerjasama dengan KPA dan LSM PKBI, LSM Warga Siaga dan Komunal secara terus menerus melakukan penyuluhan dan mobile VCT di tempat-tempat yang berisiko tinggi, di populasi kunci serta di masyarakat umum.

Ada hal yang cukup menarik tentunya, saat ini HIV-AIDS tidak hanya di populasi kunci tetapi sudah mulai merambah ke ibu rumah tangga; artinya populasi kunci ini bertambah secara nyata dan tidak akan bisa dihindari sepanjang pola hidup seks bebas yang tidak aman tidak diubah sejak sekarang. Dan tentunya kasus HIV akan cepat merebak di masyarakat umum.


Pelatihan Sistem Informasi HIV AIDS (SIHA)

Print pagePDF pageEmail page

Slide1Kamis (26/4) Penanggungjawab MONEV HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon bekerjasama dengan KPA melakukan pelatihan Sistem Informasi HIV AIDS (SIHA) di Aula 2 yang diikuti oleh Petugas Admin SIHA Puskesmas Kedawung, Plumbon, Suranenggala dan RSUD Waled masing-masing 2 orang yaitu yang bertanggungjawab terhadap laporan VCT, IMS, LJSS dan CST.

Acara mulaidilaksanakan pada pukul 10.00 WIB yang secara langsung dipandu oleh penanggungjawab MONEV Nanang Ruhyana yang didampingi oleh KPA Aip Syarifudin. SIHA merupakan sistem pencatatan dan pelaporan dari kegiatan HIV AIDS yang meliputi VCT, IMS, LJSS, CST dan lain-lain.

Dalam pelaksanaan pelatihan, semua layanan membawa bahan-bahan laporan yang akan dientry sehingga pada akhir latihan semua laporan telah selesai dan bisa langsung di upload.

Teknik entry dengan menggunakan 2 cara yaitu, pertama semua laporan di entry secara offline/local kemudian dibackup untuk ditransfer ke excell yanag nantinya untuk di edit ke laporan SSF dan zip sebagai bahan untuk uplouad. Sedangkan cara keduanya adalah dengan mengupload hasil zip ke SIHA Online.

Secara teknis software ini sangat sangat sangat user freindly, sehingga sangat mudah dikerjakan artinya tidak perlu keahlian khusus tentang komputer.

Slide2Hal yang cukup menarik adalah bahwa SIHA ini sudah terintegrasi dengan Peta dimana software yang digandeng adalah StatPlanet, sehingga data-data realtime dapat dilihat secara visual melalu peta seluruh indonesia.

Dengan kegiatan pelatihan ini diharapkan semua laporan dapat dikerjakan dengan mudah, cepat dan tepat waktu, sehingga datanta uptodate dan dapat dipercaya kebenarannya. (nang)


Puskesmas Suranenggala Layani IMS dan HIV/AIDS

Print pagePDF pageEmail page

Sejak Januari 2013 Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon menambah klinik layanan IMS dan HIV/AIDS di Puskesmas Suranenggala, tidak lain dari penambahan ini adalah daram rangka meningkatkan aksessibilitas pelayanan, sehingga masyarakat bisa lebih efisien baik dari waktu maupun biaya yang dikeluarkan untuk datang ke pelayanan kesehatan.
Perlu diketahui bahwa layanan ini meliputi pemeriksaan laboratorium, konseling, pengobatan dan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkannya.

Sesuai dengan rencana strategis bahwa tahun 2013 ini akan di setup oleh Global Fund untuk dijadikan puskesmas yang mampu melayani warga kabupaten cirebon bagian utara, serta dukungan tenaga medis dan paramedis, konselor serta tenaga laboran yang bersertfikat, artinya tenaganya sudah mahir dan trampil.
Selain hal tersebut, juga untuk mengantisipasi kasus HIV yang sangat cepat penularnnya, dimana IMS adalah salah satu pintu masuk virus ini.
Harapannya adalah bahwa dengan bertambahnya klinik ini, maka merupakan klinik ke 6 setelah kedawung, Plumbon, Beber, Ciledug dan Tegalgubug.


637 Kasus HIV/AIDS sampai dengan Tahun 2012

Print pagePDF pageEmail page

Data kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon sampai dengan Tahun 2012 mencapai 637 kasus, hal ini ada kenaikan penemuan dari tahun 2011 (557 kasus) sebanyak 80 kasus. Tetapi harus diingat bahwa data ini adalah fenomena gunung es, jadi yang diketemukan melalui layanan klinik VCT dan mobile VCT, artinya masih ada beberapa kasus yang belum diketemukan. Data ini terdiri atas dua bagian yaitu kasus yang betul-betul warga kabupaten cirebon dan warga pendatang. Untuk kasus warga kabupaten cirebon sebanyak 317 kasus dan sisanya luar warga kabupaten cirebon yang ditemukan pada saat VCT.

Jika dilihat dari proporsi jenis kelamin maka masih didominasi kaum laki-laki yaitu sebanyak 68% dan sisanya 32% perempuan, sedangkan proporsi menurut kelompok umur didominasi kelompok umur muda yaitu 21-30 tahun (51%) dan  31-40 tahun (34%), umur 0-10 tahun (2%), 11-20 tahun (6%), 41-50 tahun (6%) dan >50 tahun (1%). Risiko penularan HIV/AIDS tertinggi yaitu penularan mealalui transmisi seksual sebanyak 76% dan pengguna narkoba suntik 24%.

Perlu diketahui bahwa sampai dengan saat ini belum ditemukan baik vaksin maupun obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, namun ada obat antiretroviral (ARV) yang bisa menekan pertumbuhan virus HIV dan obat ini harus dikonsumsi seumur hidup.

Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan LSM peduli AIDS secara intens dan terus menerus melakukan pencegahan penualaran melalui penyuluhan-penyuluhan di daerah risiko tinggi serta dengan selalu melakukan pemeriksaan penyakit menular seksual dan secara komprehensif dengan pemeriksaan HIV melalui strategi VCT.

VCT sifatnya sukarela dengan mengedepankan 3C yaitu Confidensial, Counseling dan informed Consent, sehingga klien akan nyaman dan aman dari publikasi data serta dilindungi oleh undang-undang.

HIV adalah suatu virus yang tidak mudah menular, sehingga tidak perlu ditakuti. Media penularan virus ini secara garis besar ada 3 media yaitu cairan darah, cairan kelamin dan ASI dan satu lagi melalui plasenta yang terinfeksi oleh peyakit malaria. Apabila kita tidak pernah merasa akses terhadap cairan tersebut dijamin aman dan tidak termasuk kedalam risiko tinggi.

HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk, bersalaman/bersentuhan, berpelukan/berciuman, menggunakan peralatan makan/minum secara bersama, tinggal serumah dan menggunakan jamban yang bersama.

Sedangkan cara pencegahan yang efektif adalah selalu setia pada pasangan, tidak melakukan sex bebas, gunakan pengaman sex (kondom) dan hindari penggunaan jarum pada narkoba suntik. (nr)