October 15, 2018

10 Besar Penyakit di Kab. Cirebon : 1. Nosofaringitis akuta ( Commond Cold ) 186.265. 2. Infeksi saluran pernapasan akut tidak spesifik 157.077. 3. Myalgia 130.221. 4. Diare dan Gastoenteritis 75.208. 5. Dermatitis lain tidak spesifik ( eksema ) 67.373. 6. Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkotan yang tidak terklarifikasi 59.325. 7. Gastroduodenitesis tidak spesifik 57.858. 8. Hipertensi primer ( esensial ) 53.885. 9. Faringitis Akuta 49.783. 10. Tukak Lambung 49.083.

INDIKATOR KINERJA UTAMA 2018

Print pagePDF pageEmail page

DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIREBON
Unit Organisasi : Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon
Tugas Pokok : Menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan
Fungsi : a. perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan
  b. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang
       kesehatan
  c. pembinaan & pelaksanaan tugas bidang bina perilaku dan penyehatan
      lingkungan, pelayanan kesehatan & farmasi, kesehatan keluarga,
      pencegahan dan pemberantasan penyakit
  d. pelaksanaan pelayanan ketatausahaan Dinas
  e. pelaksanaan tugas lain yg diberikan oleh Bupati, sesuai dgn tugas &
     fungsinya
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA KETERANGAN
FORMULASI/RUMUS PERHITUNGAN PENJELASAN INDIKATOR KINERJA UTAMA TIPE PERHITUNGAN SUMBER DATA
1 Pengendalian penyakit menular Case Notification Rate (CNR) 145/100.000 pddk Jumlah pasien TB (semua kasus) yang dilaporkan selama 1 tahun dibagi Jumlah penduduk Persentase pasien TB yang dilaporkan selama setahun non kumulatif BIDANG P2P
Angka Kesembuhan (Cure Rate) >85% Jumlah pasien baru TB Paru terkonfirmasi bakteriologis yang sembuh dibagi Jumlah pasien baru TB Paru terkonfirmasi bakteriologis yang diobati persentase pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis yang sembuh non kumulatif BIDANG P2P
2 Pengendalian penyakit tidak menular Prosentase penderita hipertensi yang dilayani sesuai standar Jumlah penderita hipertensi yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standart dalam kurun waktu 1 tahun dibagi Jumlah  estimasi penderita hipertensi berdasarkan angka prevalensi dalam 1 tahun di wilayah kerja Persentase penderita hipertensi yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar di wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu. non kumulatif BIDANG P2P
3 Balita gizi sangat kurus dapat terdeteksi dan tertangani Menurunnya Prevalensi balita Gizi sangat kurus Jumlah kasus balita gizi sangat kurus di suatu wilayah pada periode tertentu dibagi Jumlah semua Balita ditimbang di suatu wilayah pada periode tertentu. Kasus Balita gizi sangat kurus adalah balita dengan tanda klinis gizi sangat kurus dan atau indeks berat badan menurut panjang badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan nilai score < -3SD non kumulatif BIDANG KESMAS
Menurunnya Prevalensi balita Gizi Buruk Jumlah kasus balita gizi buruk di suatu wilayah pada periode tertentu dibagi Jumlah semua Balita ditimbang di suatu wilayah pada periode tertentu. Kasus Balita gizi buruk adalah balita dengan tanda klinis gizi buruk dan atau indeks berat badan menurut umur (BB/U) dengan nilai score < -3SD non kumulatif BIDANG KESMAS
4 Terdeteksinya bumil resiko tinggi, dan tertanganinya  bumil, bulin dan bufas komplikasi Menurunnya Rasio kematian ibu Jumlah ibu yang meninggal karena hamil, bersalin, dan nifas di suatu wilayah pada periode waktu tertentu dibagi Jumlah kelahiran hidup di suatu wilayah pada periode waktu tertentu. Kematian Ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari setelah terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau penanganannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lainnya seperti kecelakaan dan terjatuh. non kumulatif BIDANG KESMAS
5 Tertanganinya neonatus komplikasi dan penanganan bayi & balita sakit Rasio Kematian Bayi Jumlah kematian bayi 0-11 bulan di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu dibagi Jumlah bayi lahir hidup di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu Kematian pada bayi usia 0-11 bulan, termasuk neonatal non kumulatif BIDANG KESMAS
6 Meningkatnya PHBS di 5 tatanan Persentase Rumah Tangga ber PHBS Jumlah Rumah Tangga yang melaksanakan 10 indikator PHBS rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun dibagi Jumlah rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun. PHBS tatanan Rumah Tangga adalah upaya memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau dan mampu melakukan PHBS untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat non kumulatif BIDANG KESMAS
7 meningkatnya sarana sanitasi dasar di masyarakat Presentase penduduk akses jamban Jumlah KK yang menggunakan jamban keluarga sehat di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu dibagi Jumlah seluruh KK  di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu Persentase jumlah KK yang menggunakan jamban keluarga sehat di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu non kumulatif BIDANG KESMAS
8 Pelayanan kesehatan dasar dan rujukan optimal dalam memberikan pelayanan Presentase rawat jalan Jumlah kunjungan pasien baru rawat jalan di sarana kesehatan (Puskesmas, Pustu, Pusling) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu dibagi Jumlah penduduk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Jumlah kunjungan pasien baru rawat jalan di sarana kesehatan (Puskesmas, Pustu, Pusling) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu non kumulatif SUBAG PEP
Presentase rawat inap Jumlah kunjungan rawat inap dibagi Jumlah penduduk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Rawat Inap adalah pelayanan kesehatan kepada pasien yang masuk sarana pelayanan kesehatan untuk keperluan observasi, diagnosa, pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kesehatan lainnya serta tinggal di ruang rawat inap sekurang-kurangnya 6 jam non kumulatif SUBAG PEP
9 Meningkatnya jumlah masyarakat yang tidak dijamin dalam PBI pusat Presentase masyarakat miskin yang mendapat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan Jumlah Peserta PBI daerah adalah penduduk miskin yang iuran premi kepesertaan JKn dibiayai oleh pemerintah daerah (kab / Provinsi) di Kab Cirebon dalam kurun waktu 1 tahun dibagi  Jumlah penduduk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Jumlah Peserta PBI daerah adalah penduduk miskin yang iuran premi kepesertaan JKn dibiayai oleh pemerintah daerah (kab / Provinsi) di Kab Cirebon dalam kurun waktu 1 tahun non kumulatif BIDANG SDK
10 Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan dasar Indeks Kepuasan Masyarakat SK Menpan No. Kep.25/M.PAN/2/2004
Nilai :
1,00 – 1,75     D     Tidak Baik
1,76 – 2,50      C     Kurang Baik
2,51 – 3,25      B     Baik
3,26 – 4,00      A     Sangat Baik
Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) adalah data dan
informasi tentang tingkat kepuasan masyarakat yang
diperoleh dari hasil pengukuran secara kuantitatif dan
kualitatif atas pendapat masyarakat dalam memperoleh
pelayanan dari aparatur penyelenggara pelayanan publik
dengan membandingkan antara harapan dan
kebutuhannya
non kumulatif SUBAG PEP
Puskesmas berkinerja baik Jumlah Puskesmas yang memiliki nilai PKP baik Puskesmas berkinerja Baik  adalah Puskesmas yang telah dilakukan verifikasi Penilaian Kinerja Puskesmas oleh Dinas Kesehatan dengan cakupan hasil pelayanan kesehatan dengan tingkat pencapaian hasil > 91% dan cakupan hasil manajemen dengan tingkat pencapaian hasil  ≥ 8,5. non kumulatif BIDANG YANKES
Puskesmas yang sudah melakukan self assesment akreditasi Jumlah Puskesmas yang terakreditasi Puskesmas yang telah kan pengakuan dari Komisi Akreditasi FKTP Kementerian Kesehatan RI setelah dinilai bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama tersebut telah memenuhi standar pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang telah ditetapkan untuk meningkatkan mutu pelayanan secara berkesinambungan non kumulatif BIDANG YANKES

Launching Aplikasi SI-EMPAL

Print pagePDF pageEmail page

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon hari ini (26/06/2017) meresmikan peluncuran Aplikasi SISTEM INFORMASI & EVALUASI MANAJEMEN PELAPORAN ANALISIS LINGKUNGAN (Si-EMPAL) kepada 29 Kepala Puskesmas dan Petugas Sanitasi.

Aplikasi ini merupakan Projek Perubahan dari Kepala Dinas Kesehatan Hj. Eni Suhaeni, SKM., M.Kes. dengan tujuan untuk meningkatkan cakupan desa ODF (Open Defecation Free) atau buang air besar (BAB) sembarangan.

Si-EMPAL adalah sebuah sistem informasi interaktif berbasis WEB yang mengukur tingkat pengetahuan dan partisipasi pemantauan dari masyarakat terhadap lingkungan disekitarnya.

Hal ini dilatarbelakangi

  1. 30% KK dari 650.000 yang belum mempunyai Jamban,
  2. dari 30% tersebut 13%nya masih  BAB sembarangan
  3. belum sistem informasi yang data mengukur tingkat pengatahuan dan partisipasi masyarakat secara interkatif dalam memantau lingkungan sekitarnya.

Aplikasi ini bisa diacres melalui website Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon dengan cara menulis di browser dinges.cirebonkab.go,id atau KLIK DISINI

atau melalui SMS Gateway dengan cara ketik siempal kirim ke 0812 2924 1117

Harapan dari aplicai Si-EMPAL ini bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kabupaten Cirebon.


Menyongsong Hari AIDS Sedunia 2017

Print pagePDF pageEmail page

P2P | Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya, bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap penyebaran AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penularan HIV yang meluas. Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia ketika mendiskusikan program penanggulangan HIV-AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS oleh
pihak pemerintah, organisasi Internasional dan lembaga sosial masyarakat di seluruh dunia.

Tema nasional untuk Hari AIDS Sedunia tahun 2017 adalah “Saya Berani, Saya Sehat!” yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh masyarakat terhadap HIV-AIDS dengan cara melakukan tes HIV dan melanjutkan dengan pengobatan ARV jika terdiagnosa HIV sedini mungkin. Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini maka kita telah melakukan perlindungan terhadap keluarga dan orang yang kita
sayangi. Hal ini yang mendasari kalimat
“Lindungi yang tersayang dari HIV” menjadi subtema HAS tahun 2017
Semakin banyak masyarakat mengetahui status HIV dan mendapatkan pengobatan ARV dini maka hal ini dapat mendorong percepatan tercapainya penurunan epidemi HIV sehingga Indonesia dapat mencapai “3 Zero” yaitu (1) tidak ada infeksi baru HIV, (2) tidak ada kematian akibat AIDS dan (3) tidak ada stigma dan Diskriminasi untuk
mencapai Eliminasi HIV pada 2030.


Kesiapan Kabupaten Cirebon Menghadapi Eleminasi HIV 2030

Print pagePDF pageEmail page

P2P |  Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi eleminasi HIV pada tahun 2030, diantaranya adalah dengan menyiapkan aset-aset untuk menunjang hal tersebut. Saat ini kami telah mempunyai 29 Klinik HIV, 6 Rumah Sakit PDP sebagai rujukan ODHA dan 1 Klinik PTRM untuk pengguna Narkoba Suntik. Tentunya dengan aset tersebut akan lebih di efektifkan lagi dan juga akan menambah jumlah layanan pada thun-tahun yang akan datang sehingga mencapai 60 Klinik dan 10 Rumah Sakit.

Selain hal tersebut kami juga akan meningkatkan jejaring dengan SKPD yang terkait sehingga semua sektor akan mempunyai peran masing-masing sesuai dengan kewenangannya secara terintegrasi dan menyeluruh.

Begitu juga dengan peran serta masyarakat, dimana saat ini kami mempunyai aset para kader yang terhimpun dalam Warga Pedulia AIDS (WPA) yang digagas oleh KPA, Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat(PIKM) yang digagas PKBI, Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) yang digagas oleh Kementerian Kesehatan dan LSM-LSM Penggiat HIV di Kabupaten Cirebon. Hal ini tentunya akan bergerak secara simultan, sehingga Strategi 90-90-90 dapat tercapai pada tahun 2024 di Kabupaten Cirebon.

Yang tidak kalah penting adalah dukungan dana, baik dari APBD maupun dari CSR yang ada di Kabupaten Cirebon dan tidak menutup kemungkinan dari Perusahaan-Perusahaan Nasional dan Internasional. Saat ini kami lagi mencoba menjajagi CSR dari Jhonson & Jhonson. Semoga!


Strategi 90 90 90 HIV

Print pagePDF pageEmail page

P2P | Minggu (22/10/2017) Kementerian Kesehatan mengadakan Lokakarya Fast Track 90-90-90 yang bertempat di Jakarta. Cara ini berlangsung selama empat hari yang dimulai sejak 22-25 Oktober 2017. Kegiatan ini di hadiri oleh 34 Provinsi dan 97 Kabupaten/Kota dan dilaksanakan dalam dua gelombang.

Inti dari kegiatan ini adalah dalam rangka percepatan penurunan epidemi HIV dengan Strategi Jalur Cepat 90-90-90 yaitu pada tahun 2020 90% ODHA mengetahui status HIVnya, 90% ODHA yang tahu statusnya mendapatkan ARV dan 90% ODHA on ART mengalami supresi Viral Load (VL).